Skip to main content

Ketika kasus mulai memantul ke akun-akun lebih besar, beberapa pihak mulai menggali lebih jauh. Ada yang menelusuri akun asal video, ada yang menganalisis timeline percakapan. Hasilnya campur aduk: beberapa tangkapan layar memang asli, beberapa voice note tampak diedit, dan ada pula komentar yang menambah narasi untuk sensasi.

Kekesalan memuncak ketika mereka yang tidak bekerja ini justru bersikap exclusive —bertingkah seolah-olah sibuk atau merasa paling berhak mendapatkan apresiasi, padahal kontribusinya nol. 2. Mengapa Konten Ini Viral?

Kolom komentar di berbagai platform media sosial terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah mereka yang mengecam perilaku ini karena dianggap tidak bertanggung jawab dan egois. Sementara kubu kedua justru bernostalgia, mengaku pernah melakukan hal serupa di masa lalu, meski tanpa istilah yang seviral sekarang.

Buatlah meme sederhana dengan gambar grup yang sedang bersama, dengan caption:

Untuk memberi gambaran nyata, berikut beberapa skenario yang banyak dibagikan oleh netizen sebagai bentuk second-hand embarrassment :

"Internetku mati total dari pagi, susah banget mau kerjain."

Beberapa tahun kemudian, saat reuni kecil kelas itu, mereka tertawa mengingat insiden viral dulu. Bukan karena mereka menertawakan yang terjadi, tetapi karena mereka mengakuinya sebagai momen yang mengajar mereka untuk bertanggung jawab — atas kata-kata, tindakan, dan bagaimana mereka menggunakan platform.